Senin, 19 September 2016

Pelayaran Batam - Bintan, Harga dan Rute



“350 ribu” jawab suara di seberang sana. Aku sedang menanyakan harga sewa mobil di Pulau Bintan, Kepri. Dan ternyata, harganya lebih mahal daripada sewa mobil di Batam yang hanya 200 ribu per hari. “Apa aku sewa di Batam saja ya, terus aku bawa menyeberang ke Bintan?” pikirku.
mari naik kapal menuju Bintan

Aku langsung berangkat ke Pelabuhan Telaga Punggur di ujung timur Batam, yang melayani pelayaran domestik dari Pulau Batam. Sedangkan untuk pelayaran internasional, Batam menyediakan Pelabuhan Sekupang yang berada di utara Batam, sangat dekat dengan Singapore. Karena aku sudah pernah ke Singapore sebelumnya, kali ini aku lebih memilih pelayaran ke timur, bukan ke utara ke arah Singapore.
Zita di atas kapal

Pengen ngirit malah kantong melilit
Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, Telaga Punggur sudah menutup jam operasionalnya. Aku hanya berhasil bertemu dengan satpam penjaga pintu gerbang. “Saya kurang tahu mbak, mungkin sekitar 260 ribu” kata si satpam ketika aku menanyakan harga angkut mobil ke Bintan. Wew, sama saja deh, sewa mobil lebih murah, tapi biaya angkutnya mahal, jatuhnya malah jadi lebih boros. Akhirnya aku memutuskan sewa mobil di Bintan saja.

Keesokan harinya, lima menit sebelum aku berangkat ke Telaga Punggur, akhirnya aku menemukan tempat sewa mobil murah di Bintan bernama Bahtera Bintan Bahari, dengan harga sewa 200 ribu untuk sebuah Avanza matic selama sehari, tanpa sopir. Ze An, nama pemilik rental juga bersedia menjemputku di Sri Bintan Pura, tempat aku berlabuh nanti.
bagian dalam kapal, ber-AC

Pelayaran Batam - Bintan
Untuk pelayaran Batam – Bintan, jika kita tidak membawa kendaraan, kita akan dilayani oleh kapal ferry dan berlabuh di Sri Bintan Pura dengan biaya 57.500 per orang. Sedangkan kalau membawa kendaraan, kita akan dilayani oleh kapal roro dan berlabuh di Tanjung Uban. Lama pelayaran sekitar satu jam, tergantung cuaca.

Selama pelayaran, beberapa kali aku bertemu dengan perahu kecil nelayan yang hanya berisi satu atau dua orang saja, mengapung di tengah perairan luas, sangat jauh dari daratan. Banyak pulau aku temui. Kepulauan Riau memang mempunyai lebih dari 2.000 pulau (entah bagaimana cara menghitung pulau yang bertebaran itu) dan 30%nya belum berpenghuni.
bagian luar (belakang), ber-angin

Tanjung Pinang, tempat dimana Pelabuhan Sri Bintan Pura berada, merupakan ibukota Provinsi Kepulauan Riau. Sebenarnya aku belum punya planning apa-apa di Bintan nanti. Rencanaku adalah, pergi tanpa rencana. “Ntar dipikirin sambil jalan aja deh” pikirku waktu itu.


Berasa seperti artis
Mendarat di Pelabuhan Sri Bintan Pura, aku disambut puluhan sopir yang menawarkan mobil mereka untuk disewa, mereka saling berebut mengerumuniku. Jadi ingat ketika kuliah dulu, begitu turun dari Damri, langsung dikerubutin tukang ojek sampai susah berjalan, persis seperti ini, seperti artis yang dikerubutin fans untuk minta tanda tangan, eh... Di dekat loket penjualan tiket, terpampang jadwal keberangkatan kapal ke pulau-pulau yang banyak tersebar di Kepri.

Puyeng dengan Bahasa Mandarin
Kami langsung masuk Avanza yang sudah menunggu kami, menuju kantor-nya Xe An, pemilik mobil, untuk melunasi pembayaran sewa mobil. Di kantor itu, aku bertanya tempat-tempat menarik apa saja yang ada di Bintan. Dua perempuan yang ada di kantor, langsung menimpali dengan heboh menggunakan bahasa Mandarin. Lha? Sebelum kepalaku puyeng mendengar ocehan Mandarin mereka, aku pamit permisi. Entar googling aja, pikirku.
Pelabuhan Sri Bintan Pura

Alun-alun itu apa ya?
“Kita kemana nih?” tanya Tirta, adikku yang pegang setir. “Cari alun-alun yok. Aku pengen foto dengan latar belakang tulisan Tanjung Pinang. Biasanya di alun-alun ada tuh tulisan nama kota gede banget” jawabku. Emang kan? Alun-alun jaman sekarang, banyak yang menampilkan tulisan nama kota gede banget, seperti di Magelang misalnya. Bahkan ketika aku ke Wonosari baru-baru ini, sudah ada tulisan Gunung Kidul gede banget di pintu masuknya.
jadwal pelayaran dari Sri Bintan Pura

Kami akhirnya bertanya pada tukang parkir “Permisi pak, alun-alunnya di sebelah mana ya?” tanyaku. Si bapak tukang parkir hanya menggeleng dalam diam. Apa nih maksudnya? Apa dia pendatang yang baru beberapa jam disini? Atau dia tidak bisa bahasa Indonesia? Soalnya selama berada di Batam dan Bintan, aku sering mendengar aneka bahasa aneh yang tidak kupahami. Mungkin karena di pulau ini banyak pendatang dengan berbagai macam bahasa.

Kami kembali bertanya, kali ini pada penjual es kelapa muda di pinggir jalan. “Permisi bang, alun-alunnya disebelah mana ya?” tanyaku. “Alun-alun itu apa ya?” si penjual kelamud menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan lagi. Wew. Emang alun-alun cuma ada di Jawa ya? di Bintan tidak ada alun-alun?

“Ya sudah, kita cari kantor DPRD saja” kataku pantang menyerah. Semoga di depan kantor DPRD ada tulisan Kepulauan Riau yang bisa aku jadikan latar belakang foto. Setelah mengikuti papan petunjuk jalan, ternyata kantor pemerintahan Kepulauan Riau berada jauh dari pusat kota. Wew.
akhirnya nemu tulisan 'Kepulauan Riau'

Akhirnya aku nemu tulisan Kepulauan Riau di pinggir jalan, langsung aku ajak Zita foto. Aku harus cukup puas berfoto di depan kantor PMI Kepulauan Riau. Yang penting ada tulisan Kepulauan Riau disitu, biar ada bukti kalau Zita sudah pernah sampai sini. Seperti temanku dari Jakarta nih, ketika berkunjung ke Magelang, aku ajak foto di depan tulisan ‘Rumah Dinas Walikota Magelang’ biar ada bukti kalau temanku itu sudah pernah menjelajah sampai Magelang.

Untuk tempat-tempat menarik lain di Bintan, tunggu postingan selanjutnya yaa…

3 komentar:

  1. banyak juga ya tempat-tempat menarik yang bisa kita kunjungi disana..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

      Hapus
    2. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

      Hapus