Kamis, 03 Maret 2016

Hilir Mudik di Bawah Tanah Singapore



Pesawatku berjalan perlahan menuju ujung landasan. Begitu putar balik di ujung landasan, tiba-tiba wuusss… badanku terdorong ke belakang karena pesawat tancap gas untuk mencapai kecepatan minimal supaya dapat terbang. Hanya dalam hitungan detik, badanku rasanya melayang, pertanda roda pesawat sudah tidak menyentuh tanah lagi.

‘Dua Tiket’ yang kumiliki kali ini, membawaku dan Zita menuju Singapore. Setelah berhasil menginjakkan kaki di negeri gajah dan negeri kanguru, akhirnya kami akan segera melangkahkan kaki di negeri singa.
Aku terbang ke Singapore dari Bandara Adi Sucipto Yogyakarta. Ternyata, penerbangan internasional bandara ini sudah pindah ke terminal B (terminal baru yang berjarak lumayan jauh dari terminal A kalau ditempuh dengan berjalan kaki). Padahal 7 bulan sebelumnya ketika aku terbang ke Malaysia, penerbangan internasional masih jadi satu dengan penerbangan domestik di terminal A.

Sebenarnya bulan November lalu ketika aku mengantar adikku yang terbang ke Batam, aku sudah melihat pesawat-pesawat luar negeri parkir di ujung kanan bandara (terminal B). Tetapi waktu itu aku belum tahu bagaimana caranya bisa sampai ke terminal B. Aku kira ada lorong di dalam bangunan bandara yang menghubungkan terminal A dan terminal B. Ternyata, untuk bisa sampai ke terminal B harus memutar lewat luar bangunan bandara.
 
Aku datang ke bandara Jogja ini menggunakan Damri dari Magelang dengan harga tiket Rp50.000,-. Oleh pak supir Damri aku diturunkan di terminal A padahal aku sudah menjelaskan kalau aku akan menaiki penerbangan internasional. Hhhh, akhirnya aku berlari-lari mengejar pesawat bersama Zita menuju terminal B yang jaraknya lumayan jauh.
bersama cwe2 Korea teman sekamar

Singapore biasa menjadi negara pertama yang dikunjungi orang Indonesia bila mereka ingin mencicipi udara luar negeri. Tetapi bagi Zita, Singapore adalah negara keempat yang dia datangi di usianya yang ke-7 tahun.
Si ayah sedang ada tugas kantor ke NTT sehingga dia tidak bisa ikut dalam perjalanan kali ini. Dia sibuk menjelajah NTT sementara kami menjelajah Singapore.

Selama di Singapore, kami menginap di Traveller@SG, 111J King George’s Avenue. Satu kamar berisi 8 orang. Teman sekamarku adalah cewek-cewek kuliahan semester 6 yang berasal dari Korea. Selama berada di dalam kamar, kami mengobrol seru dengan bahasa campur aduk.
tempat menginap

Stasiun MRT terdekat dari tempat menginapku adalah Lavender. Dari stasiun inilah aku naik MRT menuju Merlion Park (turun di Stasiun Raffles).

Jalur MRT Singapore (yang membuatku pusing)
Aku berjalan turun menuju stasiun bawah tanah, seperti ketika aku hendak naik Sydney Trains di Australia. Bedanya, di Singapore ini, stasiun dan jalur keretanya tidak hanya terdiri dari satu tingkat di bawah tanah, melainkan ada beberapa tingkat.
Jalur MRT di Singapore ini dibagi kedalam 5 warna.
ada BNI di Singapore

Warna hijau untuk East West Line (EW) yang merupakan jalur terpanjang yaitu sejauh 49 km dengan 35 stasiun, menghubungkan Pasir Ris dan Changi Airport di timur dengan Joo Koon di barat.

Warna merah untuk North South Line (NS), membentang sejauh 44 km dengan 27 stasiun, yang menghubungkan Jurong East dan Marina South Pier (kalau masuk Singapore dari Batam, stasiun Marina inilah yang terdekat).

Warna ungu untuk North East Line (NE), lurus memanjang sejauh 20 km dengan 16 stasiun, menghubungkan antara Harbourfront (stasiun terdekat dengan Sentosa Island) dan Punggol.
ada BRI di Singapore

Warna oranye untuk Circle Line (CC), melingkar di pusat kota Singapore, dan menghubungkan antara jalur EW, NS, dan NE, dengan titik pusatnya di Dhoby Ghaut. Panjang jalur CC ini adalah 35,5 km serta memiliki 30 stasiun.

Warna biru untuk Downtown Line (DT).

Nah, misalnya jalur EW ada satu tingkat di bawah tanah (lantai -1), maka bisa jadi jalur NS ada di tingkat bawahnya lagi (aku menyebutnya dengan lantai -2), dan seterusnya entah sampai berapa tingkat di bawah tanah.

Orang-orang di Bawah Tanah
Mungkin karena lahan Singapore yang tidak begitu luas, sehingga mereka mengoptimalkan ruang di bawah tanah semaksimal mungkin. Bahkan kalau kulihat sekilas, sepertinya orang yang berjalan di bawah tanah lebih banyak daripada orang yang berjalan di atas tanah. Sampai jam 10 malam pun, kehidupan di bawah tanah ini masih padat dan ramai. Aku sampe heran, begitu banyak orang di bawah sini, berpuluh-puluh meter di bawah tanah, tapi sirkulasi udara tetap lancar.
The Thinker yg ada di depan Fullerton Hotel


Keadaan stasiun dan kereta di Singapore ternyata sama padatnya seperti di Jakarta. Bedanya, para penumpang di Singapore mengantri dengan tertib, tidak saling dorong dan berebut, karena kereta lewat hampir tiap 5 menit sekali, jadi kalau kereta penuh, kita bisa menunggu sebentar sampai kereta berikutnya datang lagi, tidak seperti di Jakarta yang harus menunggu sampai setengah jam atau bahkan satu jam sampai kereta berikutnya lewat.

Orang berlalu lalang, berjalan dengan sangat cepat mengejar kereta. Entah kenapa orang-orang Singapore berjalan sangat cepat di bawah tanah ini. Eskalatornya pun, mempunyai kecepatan yang lebih daripada eskalator pada umumnya di Indonesia yang berjalan pelan.

Aku hilir mudik di bawah tanah, naik turun dari satu stasiun menuju stasiun lainnya, dengan memakai rok panjang melambai-lambai, berdiri di atas eskalator yang berjalan sangat cepat. “Wah, salah kostum nih” pikirku sambil menarik tinggi-tinggi rok panjang ku supaya tidak terjepit di sela-sela eskalator yang bergerak dengan kecepatan tinggi.
Marina Bay Sands

Meskipun eskalator sudah bergerak dengan cepat, tetapi ada saja orang yang berlari di atas eskalator. Nah, ketika berdiri di atas eskalator, berdirilah di sebelah kiri, jangan berjejeran memenuhi jalan, karena sebelah kanan kita adalah untuk orang yang berjalan maupun berlari. Selain eskalator yang mempunyai kecepatan tinggi, kereta MRT-nya pun berlari dengan kecepatan tinggi.

Di atas pintu kereta, selain terdapat peta jalur kereta, juga ada tulisan ‘this side’ dan ‘other side’ yang menerangkan tentang pintu sebelah mana yang akan membuka di stasiun berikutnya. Jadi orang yang akan turun, bisa bersiap-siap di depan pintu yang tepat.
Cavenagh Bridge

Di dekat patung Merlion, selain Esplanade yang berbentuk unik (menurutku sih bentuknya hampir mirip Sahmri Building di Adelaide), ada juga bangunan Marina Bay Sands dengan tiga gedung utama yang dihubungkan bangunan berbentuk kapal di atasnya.

Di belakang Merlion Park juga ada tempat lainnya yang banyak dikunjungi wisatawan, yaitu Cavenagh Bridge. Dan di sebelah jembatan ini, ada patung unik berupa kumpulan bocah yang hendak menyebur ke sungai di bawah jembatan.

Ada satu hal lagi yg menarik perhatianku, yaitu sebuah bangunan bertuliskan ‘setan’ yg ternyata dibaca ‘isetan’ yang merupakan sebuah perusahaan asal Jepang.
















Baca juga :
- Sentosa Island
- Madam Tussaud Singapore
- masuk Malaysia lewat Singapore
- Petronas Tower

5 komentar:

  1. Si kecilku nggak suak diajak ke gedung bertingkat ala singapore, bawaanya bete melulu, marah2. Dia lebih suka wisata alam baik gunung atau pantai, pastiii enjoy. P

    BalasHapus
    Balasan
    1. Zita jg lebih suka alam sih, tapi kalo ada acara jln jauh, dia suka rewel & bawel :(

      Hapus
  2. Wah asyik yang jalan-jalan ke Singapura. Itu kok lucu ada patung panda sekarang dengan background MBS ya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya kebetulan nemu patung lucu. emg dulu blom ada ya..?

      Hapus
  3. Perkenalkan, saya dari tim kumpulbagi. Saya ingin tau, apakah kiranya anda berencana untuk mengoleksi files menggunakan hosting yang baru?
    Jika ya, silahkan kunjungi website ini www.kumpulbagi.com untuk info selengkapnya.

    Di sana anda bisa dengan bebas share dan mendowload foto-foto keluarga dan trip, music, video, filem dll dalam jumlah dan waktu yang tidak terbatas, setelah registrasi terlebih dahulu. Gratis :)

    BalasHapus