Minggu, 13 Maret 2016

Serunya Melintas Perbatasan Negara Lewat Jalur Darat



Selama ini, aku selalu memasuki wilayah negara lain melalui udara, yaitu mengantre imigrasi di bandara. Aku jadi penasaran, seperti apa ya kalau menyeberang perbatasan lewat darat?

Pada perjalanan kali ini, aku berkesempatan menyeberang perbatasan lewat jalur darat, yaitu keluar dari wilayah Singapore dan masuk ke wilayah Malaysia.

Aku menjadi penumpang sebuah travel Singapore-Melaka bersama 15 orang penumpang lainnya. Tiba di perbatasan Singapore, aku disuruh turun dari travel bersama penumpang lainnya. “Bawa paspor aja” kata si supir yang orang asli Johor.

Turun dari travel, aku ikut berbaur dengan keramaian orang-orang yang masuk ke gedung imigrasi Singapore di lantai atas. Meskipun loket yang tersedia cukup banyak, tapi antrian tetap memanjang. Banyak sekali orang yang melintas perbatasan ini. Mungkin mereka adalah orang Malaysia yang bekerja di Singapore. Dan mungkin juga karena biaya hidup di Singapore lebih mahal, mereka lebih memilih tinggal di Malaysia dan setiap hari pulang pergi melintas perbatasan negara. Wah, baru bikin paspor sebulan, pasti dah langsung penuh cap ya karena tiap hari menyeberang perbatasan negara. ^-^

Banyak juga nih, turis yang terbangnya ke Changi, tapi lebih milih menginap di Johor, jadi menambah panjang antrian imigrasi yang sudah panjang.

Seperti biasa, untuk keluar dari sebuah negara, tidak banyak pertanyaan dari petugas imigrasi. Berbeda kalau kita hendak masuk ke sebuah negara, pasti pertanyaan “mau ngapain disini, berapa hari, tinggal dimana, dsb” selalu terlontar dari mulut petugas imigrasi.

Di gerbang keluar Singapore ini, aku cukup memperlihatkan paspor, dan disuruh mengumpulkan incoming card yang aku terima ketika mendarat di Changi sehari sebelumnya. Ternyata incoming card itu sudah tidak ada di dalam pasporku. Waduh, hilang dimana ya. Karena tidak bisa mengumpulkan incoming card, aku diomelin sama petugas imigrasi. Tetapi akhirnya, tanpa banyak pertanyaan lagi, aku melenggang santai keluar dari pintu imigrasi Singapore, turun ke lantai bawah, dan kembali masuk ke dalam travel, untuk kemudian meneruskan perjalanan menuju gerbang masuk Malaysia di ujung jembatan.

Baru naik kendaraan beberapa menit, aku sudah harus turun lagi untuk mengantri di imigrasi Malaysia. Untuk antrian kendaraan kecil (mobil pribadi) berada di jalur jalan sebelah kiri, sedangkan untuk travel, bus, dan kendaraan umum lainnya, berada di jalur jalan sebelah kanan.

Masuk Malaysia, selain harus membawa paspor, aku juga harus membawa koper dan semua barang yang aku bawa dari Indonesia untuk diperiksa. Aku masuk lagi ke dalam keramaian orang yang menuju lantai atas gedung imigrasi Malaysia sambil menyeret koper besar yang aku bawa. Sampai di meja imigrasi, seperti yang sudah kuduga sebelumnya, banyak pertanyaan keluar dari mulut petugas imigrasi. Aku menjawab semua pertanyaan dengan lancar karena sudah mempersiapkan jawaban, baik menggunakan bahasa Indonesia, bahasa Malaysia, maupun bahasa Inggris. Semua jawaban dengan berbagai macam bahasa sudah aku persiapkan sebelumnya.

Incoming card Malaysia lewat jalur darat ini ternyata bentuknya adalah stiker dan ditempel di lembaran paspor, sehingga tidak akan mungkin aku hilangkan seperti incoming card Singapore sebelumnya. Nantinya, stiker yang ditempel di paspor ini akan disobek di imigrasi ketika aku keluar dari Malaysia.

Untuk masuk ke sebuah negara, seperti biasa barang bawaan harus melewati sensor terlebih dahulu. Karena tidak membawa barang terlarang, koper dan ranselku berhasil lolos dengan aman. Aku kembali menyeret koper dan ransel, turun ke lantai bawah, kemudian masuk kembali ke dalam travel.

Hhhh, ternyata repot sekali menyeberang perbatasan negara lewat darat, harus gotong-gotong koper kesana kemari. Kenapa ya, bukan petugasnya saja yang nyamperin kita dan meriksa paspor serta interogasi di kendaraan. *_*

“Mas. Bang. Pak supir nggak ikut ngantri di imigrasi?” tanyaku pada supir travel yang terlihat masih muda. Aku bingung mau menyapa si supir pake sebutan mas, bang, atau pak. Di Malaysia kayaknya kalo manggil orang pake sebutan pak cik ya. “Sudah tadi di bawah, sekalian diperiksa kendaraannya sama petugas perbatasan” jawab si supir. “Wah asyik ya, sering melintas perbatasan Singapore-Malaysia.” “Kadang sehari malah bisa ke tiga negara sekaligus, sampai Thailand” jawabnya lagi. “Wah, keren dong, bisa breakfast di Singapore, lunch di Malaysia, dinner-nya di Thailand. Trus tiap melintas perbatasan gini, paspornya selalu di cap juga? Berarti paspornya penuh nih, nggak kayak pasporku, masih banyak yang kosong.”

Welcome to Malaysia
Keluar dari Singapore lewat Woodland checkpoint, aku memasuki wilayah Johor Bahru di Malaysia. Beberapa saat setelah memasuki wilayah Malaysia, kendaraan kami beristirahat di tempat bertuliskan ‘tempat berkumpul semasa kecemasan’. Entah tempat apa ini. Mungkin kalau ada gempa, bencana, atau kejadian darurat lainnya, semua orang berkumpul disini, karena ‘pintu darurat’ kalau di Malaysia judulnya ‘pintu kecemasan’.

Melaka
Kita tinggalkan urusan perbatasan negara ini. Selanjutnya, mari kita menuju Melaka, sekitar 4-5 jam perjalanan dari perbatasan. Ada apa saja di Melaka? Ini dia foto-fotonya.

Semua bus pariwisata di Malaysia bertuliskan ‘bas persiaran’ berasal dari kata ‘pesiar’. Tadinya aku kira ini bis untuk siaran televisi ataupun radio.
Bas Persiaran = Bus Pariwisata kalau di Indonesia

bule 'ngamen' dg membuat gelembung2 balon gede2 bgt

Teh Ais kalo di Indonesia es teh kali ya?

















































2 komentar:

  1. Wah hidup di singapura selain paling mahal juga anomali, disaat seluruh dunia harga-harga turun disingapura justru naik. SUMBER: Perekonomian Singapura sedang sulit, tarif listrik naik 9.2% dan akan disusul kenaikan lainnya

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus