Selasa, 08 Agustus 2017

Situs Megalitikum di Pagar Alam, Wisata Sejarah di SumSel



Situs Megalitikum (dari bahasa Yunani yang berarti batu besar), yang paling terkenal di Indonesia sepertinya adalah Situs Gunung Padang di Jawa Barat, yang merupakan situs tertua (lebih tua dari Piramida Giza di Mesir) dan terbesar di Indonesia, dengan luas sekitar 3 ha. Ntar deh, kalo pelajaran Zita di skolah sudah membahas tentang dolmen, menhir, dan punden berundak, kita ajak Zita ketempat ini ya yah.. Sekarang, kita lihat dulu Situs Megalitikum yang ada di Pagar Alam, yang baru kami datangi beberapa waktu yang lalu.
 
situs manusia dililit ular



Pagar Alam, meski masuk wilayah Sumatera Selatan, tetapi lebih dekat dengan Bengkulu daripada Palembang (ibukota Sumatera Selatan). Kami tertarik mendatangi Pagar Alam setelah ada seorang teman lulusan Arkeologi yang bercerita tentang banyaknya situs megalith yang bertebaran di Pagar Alam (yang paling terkenal adalah situs Arca Basemah). Tetapi, kebanyakan situs megalitikum ini berada di dalam hutan yang akses jalannya masih sulit dan harus berjalan jauh masuk ke dalam hutan. Jadi kami mencari situs yang berada tidak begitu jauh dari jalan raya, dan akhirnya kami menemukan Situs Megalitikum Tanjung Aro.
 
situs rumah batu

 
latar belakang Gunung Dempo
Situs megalitikum disini berbentuk rumah batu dan manusia dililit ular yang berusia 3.000 – 4.000 tahun. Situs arca manusia dililit ular berada di tengah persawahan penduduk, dengan latar belakang Gunung Dempo yang menjulang tinggi di kejauhan. Sedangkan untuk situs rumah batu berada diantara rumah-rumah penduduk setempat.

lihat videonya juga yaa..

baca juga : 

Jumat, 07 Juli 2017

Kunci Hati Afgan di Tebing Breksi



Pertama kali melihat tebing batu kapur ini, setahun yang lalu, adalah di video klip Afgan yang berjudul Kunci Hati. Setelah mencari info, ternyata tebing ini berada di Jogja, tidak terlalu jauh dari rumahku. Langsung deh aku meluncur kesana.


How to get there
From Adi Sucipto International Airport.
Keluar dari bandara, kita berbelok ke kanan, menyusuri Jalan Raya Solo, ke arah Candi Prambanan. Dari Prambanan, berbeloklah ke kanan lagi menyusuri Jalan Raya Piyungan ke arah Candi Ratu Boko. Begitu melewati Ratu Boko (disebelah kiri jalan), kita masih jalan lurus, dan baru berbelok ke kiri ketika menemukan papan petunjuk jalan ke arah Candi Ijo (kalau lurus ke Rumah Teletabis).

Berbelok ke kiri ke arah Candi Ijo (keluar dari Jalan Raya Piyungan), jalan yang dilalui akan menyempit dan mulai naik turun dan berkelok-kelok. Beberapa tanjakan dan kelokan lumayan tajam, jadi berhati-hatilah. Sebelum sampai Candi Ijo, tampaklah Tebing Breksi di sebelah kiri kita.


Aku ke tempat ini sudah lebih dari setahun yang lalu, jadi mungkin sekarang akses jalan ke Tebing Breksi sudah lumayan bagus karena tempat ini semakin terkenal, dan konon kabarnya beberapa waktu yang lalu Obama juga berkunjung kesini.


Tarif masuk ke tempat ini waktu itu (setahun yang lalu) belum ditentukan alias seikhlasnya, jadi aku masukin deh 20ribu ke kotak amal untuk rombongan kami yang waktu itu ada empat orang.

Untuk tempat parkir kendaraan, kita bisa terus naik mendekati tebing, tapi hati-hati ya, karena banyak kerikil di sepanjang jalan, waktu itu saja aku sempat takut mobilku melorot ke bawah tergelincir kerikil. Di bagian bawah juga ada sih, tempat parkir beralas tanah dan sedikit rerumputan (lebih aman), tapi kita jadi harus jalan kaki jauh menuju tebing.


Tebing bekas tempat penambangan ini, mulai nge-hits sejak 2015 silam, dan semakin penuh dikunjungi wisatawan setelah muncul di video klip Afgan berjudul Kunci Hati. Dari atas tebing, kita bisa menikmati pemandangan indah Yogyakarta, dan di malam hari lampu landasan pesawat bandara Adi Sucipto terlihat jelas dari puncak tebing ini.

Ada ukiran beberapa wayang di dinding tebing, bahkan di foto-foto terbaru, ada ukiran ular yang meliuk-liuk indah di sepanjang dinding di sebelah tangga (waktu aku kesini di awal 2016 belum ada ukiran ular ini).
 
ukiran wayang di dinding tebing

Baca juga : 

Rabu, 21 Juni 2017

Whispering Wall, Tembok yang Berbisik?



Ketika mendengar ada tempat bernama Whispering Wall di dekat Adelaide, pada mulanya aku takut. Syerem ah, mosok tembok bisa berbisik? Ada hantunya kali? Tetapi setelah mendatangi tempat yang dimaksud, ternyata tempat itu merupakan sebuah bendungan. Nah lo, ada yang bunuh diri dengan loncat di bendungan ini kali ya? Terus arwahnya gentayangan dan berbisik-bisik?
Bukan!!!! Ternyata begini sejarahnya teman-teman.

Zita di Whispering Wall
Barossa Reservoir atau lebih terkenal dengan sebutan Whispering Wall, merupakan sebuah bendungan yang berlokasi di Williams Town Australia Selatan, dibangun pada tahun 1899 sampai 1902, dan bertujuan memberi pasokan air ke Gawler dan sekitarnya. Dengan ketinggian 36 meter, bendungan ini merupakan yang tertinggi di Australia.

Lalu, kenapa bendungan ini bisa berbisik? Begini ceritanya.

Pada kedua ujung bendungan yang berjarak 144 meter, ada gambar orang yang sedang mendengarkan seperti ini.


Berdirilah disebelah gambar ini, dan seorang lainnya berdiri di sebelah gambar satunya lagi yang ada di ujung bendungan, kemudian bercakaplah seperti biasa, tanpa perlu berteriak, maka suara orang yang berjarak lebih dari 140 meter di ujung bendungan, akan terdengar dengan jelas, seolah orang itu berdiri tepat didepanmu. Tidak percaya? Buktikan sendiri!!


Berikut keterangan yang dipajang di sebelah Barossa Reservoir.


Kalo kurang jelas tulisannya, ini aku tulis ulang.
Widely known as the “The Whispering Wall”, at the time of its completion in 1902, Barossa Reservoir was not only the first arch dam in South Australia but the highest in Australia. It generated international interest for its bold and visionary design.
The dam has surprising acoustic properties. Sounds at one end of the dam can be heard clearly at the other end. Its curved, slender shape and quiet location induces conditions that contribute to the transmission of sound. Straight line sound waves reflect obliquely off the wall as they travel 140 metres to the other end.

Baca juga :

Selasa, 06 Juni 2017

Wisata Bengkulu dan SumSel, Bukit Kaba dan WaterVang



Kalau di postingan sebelumnya aku sudah membahas tentang tempat-tempat wisata di Kota Bengkulu, sekarang aku bahas ya, beberapa tempat yang agak jauh dari Kota Bengkulu.

Danau Musi
Berada di wilayah Kabupaten Kepahiang, Danau ini merupakan hasil dari pembendungan Sungai Musi yang digunakan untuk PLTA. Air danau ini juga dimanfaatkan penduduk sekitar untuk keramba ikan. Ada jembatan yang sudah banyak berlubang disini yang menarik minatku, tetapi aku tidak berani menyeberanginya, hanya berani beberapa langkah saja, habisnya jembatannya goyang-goyang sih, jadi aku takut kecebur, padahal orang-orang lain dengan santai melewati jembatan ini meski sudah ada tulisan ‘jembatan rusak’ di ujungnya.
 
siapa berani menyeberang jembatan bolong-bolong ini...??
Bukit Kaba – Curup
Bukit yang satu ini masuk ke wilayah Curup yang merupakan ibukota Kabupaten Rejang Lebong. Banyak juga yang menyebut Gunung Kaba karena gunung ini mempunyai kawah yang masih aktif, dengan ketinggian 1.938m. Sayang ketika sampai tempat ini waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Meski ada ojeg motor yang bisa membawaku ke kawah, tapi perjalanan menggunakan ojeg pun akan memakan waktu selama satu jam. Haduh, bakalan kemalaman nih, mana nggak ada lampu di sepanjang jalan, ngeri ah, serem, akhirnya aku harus cukup puas berfoto di pintu masuknya saja.


Padahal kalau melihat foto-foto tentang Bukit Kaba, kawahnya keren lho, dan tangga batu menuju ke puncak juga keren abis.

PLTA Ujan Mas / PLTA Musi
Meski aku belum sempat kesini karena tidak ketemu tempatnya, tapi melihat foto-fotonya di instagram, keren banget nih tempat, asal datangnya di waktu yang tepat, yaitu ketika air melimpah ruah. Beberapa kali aku wisata ke PLTA seperti Jatiluhur, Wadas Lintang, Sempor, dan lain sebagainya di waktu musim kemarau, fotonya kurang keren karena airnya tidak ada.

PLTA Ujan Mas menurut info berada di Kepahiang, tapi sudah aku ubek-ubek itu Kepahiang, tidak ketemu juga. Ketika bertanya pada penduduk setempat malah katanya PLTA ini tidak dibuka untuk umum. *_*

Danau Dendam Tak Sudah
Terletak di Kecamatan Singaran Pati, dengan luas danau 67 hektar.

WaterVang – Lubuk Linggau
Nah, tempat yang satu ini sudah tidak masuk wilayah Provinsi Bengkulu, meski hanya berjarak beberapa menit saja dari perbatasan Provinsi Bengkulu. WaterVang yang merupakan sebuah bendungan buatan Belanda ini masuk ke wilayah Lubuk Linggau, Sumatera Selatan.
 
dibuat tahun 1941


 
mari menyeberang


Baca juga :