Kamis, 29 September 2016

Punthuk Sukmojoyo, Tetangganya Setumbu yang Tak Kalah Cantik



Selangkah demi selangkah, kulalui jalan tanah berkerikil ini. Puncak Sukmojoyo masih berada jauh di depanku. Disaat orang berbondong-bondong menuju Punthuk Setumbu yang menjadi artis dadakan setelah film AADC2 tayang di bioskop, aku lebih memilih berjalan ke arah Punthuk Sukmojoyo yang belum seramai Setumbu.

Punthuk Sukmojoyo terletak tidak begitu jauh dari Punthuk Setumbu, keduanya masih berada dalam satu kecamatan, yaitu Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Hanya saja keduanya berada di desa yang berlainan. Jika Punthuk Setumbu berada di Desa Karangrejo, maka Punthuk Sukmojoyo berada di Desa Giritengah.

“Gila nih, kalau ini sih trek buat para pendaki gunung” kataku sambil terengah-engah, kesulitan bernapas. Untung jaman SMA dulu aku sudah sering naik gunung Merbabu, Sindoro, dan Sumbing (tiga dari lima gunung tinggi yang mengelilingi Magelang).

Setelah perjuangan yang berat, dengan peluh bercucuran, akhirnya aku melihat pemandangan yang luar biasa cantik.
Sunrise di Puncak Sukmojoyo



Pemandangan disini sangatlah menarik, tetapi, perjalananku untuk dapat sampai ketempat ini tidak kalah menarik. Mari kita masuk ke laci meja belajar Nobita, pinjam mesin waktu milik Doraemon, dan kembali ke masa dua jam sebelumnya.


Awal Mula             
Jam lima pagi… Gelap masih menyelimuti Magelang ketika aku keluar rumah dan menyalakan mesin motor, motor yang selalu menemaniku menjelajah ketempat-tempat indah. Fyi, aku bukanlah sopir mobil yang handal meskipun SIM A sudah berada di dalam dompetku sejak 15 tahun yang lalu, jadi aku lebih memilih menggunakan sepeda motor untuk menjelajah.

Motorku berlari dalam kegelapan pagi Magelang yang berkabut. Tidak sampai satu jam kemudian, aku sudah sampai di kaki Candi Borobudur yang megah membahana tiada tandingnya itu. Tujuan awalku sebenarnya adalah Punthuk Mongkrong.

Magelang dikelilingi oleh lima gunung yang tinggi dan dikepung oleh pegunungan dari segala arah. Dan, pegunungan itu jika diperhatikan mempunyai banyak ‘punthuk’ (entah apa bahasa Indonesia-nya punthuk?). Jadi, Magelang tidak hanya mempunyai Punthuk Setumbu saja, masih banyak tempat lain yang menawarkan pemandangan indah untuk berburu sunrise, diantaranya Gereja Ayam, Bukit Barede, Pos Mati, Punthuk Mongkrong, Watu Kendil, Punthuk Sukmojoyo, Punthuk Gupakan, dan punthuk-punthuk yang lain.

Pada awalnya, tujuanku adalah Punthuk Mongkrong, rutenya hampir sama dengan rute ke Punthuk Setumbu. Langkah pertama, carilah Hotel Manohara yang berada di samping Candi Borobudur. Dari situ, ikuti jalan menuju Punthuk Setumbu (ada papan petunjuk di sebelah Hotel Manohara). Nah, begitu ada perempatan jalan, kalau ke kanan adalah Punthuk Setumbu dan Rumah Kamera, maka kalian lurus saja (kebanyakan kendaraan sih belok ke kanan karena mau ke Punthuk Setumbu yang sudah terkenal itu).

Di perempatan selanjutnya (perempatan kedua) ada bangunan Kantor Kepala Desa TukSongo, baru kalian belok ke kanan. Ikuti jalan sampai ada perempatan (disebelah kanan jalan ada Toko Wijaya), pilihlah jalan ke arah kiri. Mulai dari situ, papan petunjuk menuju Punthuk Mongkrong sudah mulai bertebaran.

Papan pertama yang kita temui adalah tanda jalan menuju Pos Mati (tempat seru juga untuk berburu sunrise). Kalau ke Pos Mati belok kanan, kalau ke Punthuk Mongkrong masih lurus. Tidak berapa lama, sampailah kita di tempat parkir mobil. Disini, biasanya pengendara mobil berhenti dan melanjutkan perjalanan menggunakan ojek. Karena aku mengendarai motor sendiri, maka aku terus saja belok kanan mengikuti jalan yang menanjak dan berliku (kalau lurus ke arah Watu Kendil).

Gila deh jalannya, kalau bukan pengendara motor yang hebat seperti aku, sepertinya akan kesusahan melewati jalan ini. Pemandangan di sebelah kananku keren abis. Konsentrasiku jadi terbagi antara serius memandang jalan berliku dan menanjak tajam di depanku, sambil sesekali melirik pemandangan yang terhampar indah di sebelah kananku. Keren sekali. Awesome. Meskipun jalanannya susah dilalui, tetapi untuk mengobati rasa penasaranku atas foto-foto keren Punthuk Mongkrong yang banyak beredar di internet, aku tetap semangat memacu motorku.

Sialnya, ketika hampir sampai, aku diberitahu oleh penduduk setempat bahwa Punthuk Mongkrong sedang ditutup karena ada jalan yang sedang diperbaiki. Akhirnya aku berbelok ke kanan ke arah Punthuk Sukmojoyo. Sama-sama punthuk ini, kataku dalam hati.

melihat foto di spanduknya keren yaa..


Tertipu GPS
Aku bisa sampai tempat ini berdasarkan panduan dari GPS. Jalan yang kulalui semakin menyempit meskipun ketajaman tanjakan dan lika-likunya tidak juga berkurang. Pemandangan semakin indah karena aku berada semakin tinggi. Sampai di tempat parkir motor, aku melanjutkan dengan berjalan kaki. Perjalanan kaki yang kulalui tidaklah mudah. Jalannya mirip rute untuk mendaki gunung, nanjaknya pakai banget. Aku kira jalannya sudah mulus seperti jalan menuju Punthuk Setumbu yang sudah disemen, ternyata jalannya masih berupa tanah terjal berbatu.
jalan kaki lewat sini

dan sini
dan sini
Setelah menanjak jauh dan beberapa kali beristirahat di gubug yang banyak disediakan di sepanjang jalan, sampailah aku di jalan yang lebih lebar dan… ada motor melintas di jalan itu! Lha kok? Motor bisa sampai sini? Aku misuh-misuh karena merasa bodoh parkir di tempat yang jauh, padahal ada tempat parkir yang dekat begini sehingga aku tidak perlu melewati jalan tanah berbatu, licin, nanjaknya pakai banget, membuatku ngos-ngosan, keringetan, kehausan, dan juga kelaparan.
banyak tersedia tempat beristirahat seperti ini di sepanjang jalan, dengan pemandangan indah menghampar di depan mata

Rute yang lebih mudah
“Ini motor asalnya darimana mas? Kok bisa sampai sini? Saya parkirnya di bawah sana tuh, jauuuhh” aku langsung curhat dengan berapi-api pada mas-mas yang jadi tukang parkir disitu. “Jalan ini asalnya dari Desa Karang Anyar mbak, muter jauh, harus muterin gunung” jawab tukang parkir itu. Mending muterin gunung tapi naik motor deh, daripada harus jalan kaki jauh begini. Bagi yang tidak tahu jalan lebih baik naik ojek supaya tidak perlu berjalan kaki yang jauhnya minta ampun ini.

Aku kembali berjalan sambil manyun karena merasa tertipu oleh GPS yang membawaku kesini. Seharusnya tadi aku ketik di GPS ‘rute menuju Punthuk Sukmojoyo yang nggak usah pake jalan jauh’. Kalau dari tempat parkir yang ini, yang lewat Desa Karang Anyar ini, Punthuk Sukmojoyo sudah terlihat dekat, hanya tinggal beberapa langkah lagi.

nih jalannya cuma sedikit kalau tahu tempat parkir yang benar


Siapkan Uang Masuk!
Kesialanku selanjutnya nih, ternyata ada pintu masuk menuju Punthuk Sukmojoyo. Dan di pintu itu, disediakan kotak amal yang bergembok, dan bertuliskan ‘ongkos masuk : seikhlasnya’. Aku membuka dompet, dan cuma ada dua lembar seratus ribu di dalamnya. Hadeh, masak aku masukin seratus ribu sih? Masuk Borobudur yang megah membahana tiada tanding saja tidak semahal itu.

Aku merogoh kantong baju sebelah kanan, nemu selembar seribuan (kembalian ongkos parkir di pasar kayaknya), kantong baju sebelah kiri nemu koin lima ratus rupiah (sisa jajan Zita mungkin), dan nemu lagi selembar dua ribu di selempitan tas (hmm.. kalau yang ini sepertinya uang kembalian nambal celana yang bolong kemarin). Aku masukin semua deh itu total tiga ribu lima ratus. Maaf ya, besok aku tambahin kalau aku kesini lagi, dan pasti ku kan kembali kesini lagi karena tempatnya keren abis. Kalau kesini siapin uang masuk seikhlasnya yaa… biar nggak nge-bon seperti aku. ^_^



tidak berani berdiri seperti foto di spanduk, jadi duduk saja lah

saltum, naik gunung pakai rok panjang, akhirnya ribet sendiri

Banyak tempat wisata lain disekitar sini lho, diantaranya Watu Kendil (batu ajaib di puncak bukit), Curug Watu Ploso (curug tiga tingkat), Goa Sedeku, Bukit Limasan, Sendang Suruh, dsb.


Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Blog Visit Jawa Tengah 2016 yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah @visitjawatengah (www.twitter.com/visitjawatengah;


5 komentar:

  1. Punthuk itu artina 'gundukan'
    kapan Punthuk sukorini ditulis dan dipopulerkan???

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

      Hapus
    2. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

      Hapus
  2. tempatnya benar-benar indah ya, meskipun jalan yang harus di lalui cukup sulit untuk mencapai punthuk sukmojoyo..

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus